Saya menulis postingan ini bukan berbayar loh ya, tapi memang sekedar share karena saya telah merasakan kegunaannya. Iya, berguna sekali.
Jadi begini, tanggal 15 November 2014 lalu, saya baru mendaftarkan keluarga kecil saya untuk keanggotaan BPJS Kesehatan. Sebenarnya sudah lama kami ingin mendaftarkannya, bahkan jauh sebelum anak kami lahir :D hanya saja kendala kami adalah Kartu Keluarga (KK) kami yang urung terselesaikan dari 6 bulan kehamilan saya sampai anak kami berusia hampir 5 bulan :p . Nah ketika KK kami 'jadi' bergegaslah saya daftarkan Suami, saya dan Alisha (anak kami).
Awalnya, ketertarikan saya untuk daftar BPJS ini adalah atas referensi tweet dari @supermomo . Saat itu beliau share pengalamannya merasakan manfaat BPJS ini dalam proses kelahiran anaknya :D . Waoww... sejak itulah kami bertekad akan keikutsertaan BPJS ini.
Susah? Ndak kok. Kita tak perlu bersusah payah antre dan pergi ke kantor BPJS setempat, bisa daftar on line. Ikuti saja petunjuk yang ada. Nanti kita daftar, isi formulir on line, setelah itu dapat konfirmasi aktivasi berupa nomor virtual account melalui alamat email yang kita daftarkan. Nah, nomor Virtual account ini adalah untuk nomor rekening setoran (pembayaran) masing-masing orang yang harus dibayarkan sebelum tanggal 10 setiap bulannya. Untuk pilihan kelas perawatan masing-masing beda biayanya. Untuk Kelas I Rp. 59.500 Kelas II Rp. 42.500 Kelas III Rp. 25.500. Setelah itu kita diminta melakukan pembayaran 1x24jam. Setelah pembayaran berhasil, kita cek kembali email aktivasi sebelumnya, ada link untuk kartu keanggotaan BPJS/e-ID. Untuk dapat digunakan, kita dapat print sendiri e-ID nya dan tidak perlu menukarkan kartu yang asli. Nah, setelah pendaftaran ini BPJS baru bisa digunakan 7 hari kemudian ya. Makanya slogan BPJS sekarang, "Daftar selagi Sehat" :D
ini contoh e-ID nya :
Tanggal 22 November 2014, akhirnya BPJS kami sudah bisa digunakan.
Kebetulan suami saya sudah lama mengeluhkan sakitnya (Sinusitis). Ia pun bergegas ke Klinik (Faskes I) kami untuk berobat. Dari sana, suami saya dirujuk untuk konsultasi langsung dengan dokter THT di Rs. Haji Jakarta Timur.
Hari pertama control di Rumah sakit, kami tiba sekitar pukul 07:00, dan bergegas ke bagian pendaftaran. Disana kami dikenakan biaya Rp. 12.500 untuk mendapatkan kartu berobat. Selebihnya? Jangan khawatir, dengan BPJS kami sama sekali tidak dikenakan biaya \('o')/ .
Sampailah kami di antrean counter BPJS. Sekedar info tambahan, untuk berobat jalan kita harus melampirkan Fotokopi BPJS, Fotokopi KTP, Fotokopi surat rujukan dari Faskes I, Fotokopi KK (jika diperlukan). Kalau rawat inap yang harus kita lampirkan adalah Fotokopi BPJS, Fotokopi KTP, Fotokopi surat rujukan dari Faskes I, Fotokopi KK, surat rujukan untuk rawat inap dari dokter poli masing-masing 3 lembar.
Sekitar pukul 09:00 kami mendapatkan antrean poli THT dengan membawa berkas dari BPJS. Antre lama di conter BPJS? ya memang, karena banyak sekali yang berobat menggunakan BPJS. ya gak apalah kita antre, toh mendapatkan fasilitas konsultasi dokter dan obat 'gratis' kok.
Akhirnya kami bertemu dengan dr. Jamal. Setelah suami saya menjelaskan keluhannya, dr. Jamal menyarankan untuk melakukan rontgen. "Jangan khawatir, ditanggung BPJS kok" kata dr. Jamal :D Alhamdulillah tenang :))) lumayan, tercover Rp. 165.000 (tanggungan pertama). Setelah lihat hasil rontgen, dr. Jamal menjelaskan kepada kami cara membacanya. Dan saat itupun suami disarankan untuk segera melakukan operasi kecil. Dan untuk persiapannya kami diminta cek darah dan mencari ruang rawat inap. sebelumnya untuk cek darah, dokter bilang untuk hasil cepat, sebaiknya jangan menggunakan BPJS, bayar saja, takutnya hasilnya baru keluar seminggu kemudian. Setelah suami mendaftarkan namanya di lab, ia malah mendapatkan kwitansi yang harus dicap BPJS dan hanya diminta menunggu 45 menit untuk hasil test darahnya. Alhamdulillah kemudahan kedua di hari pertama.
persiapan kedua adalah mencari ruang perawatan pasca operasi. Untuk yang ini, kami menunggu konfirmasi dari Rs lumayan lama. Dari pihak Rs tidak bisa menjanjikan kapan tersedianya kamar rawat inap. Kebetulan layanan BPJS yang Kami daftarkan adalah kelas 1, dan untuk mendapatkan ruang rawat inap yang sesuai dengan BPJS Kami, bisa waiting list sampai 1bulan. Akhirnya kami memutuskan untuk menerima fleksibel kelas dan tak harus menunggu lama.
Selama menunggu konfirmasi ketersediaan ruang rawat inap, suami saya juga masih harus bulak-balik Rs untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis anestesi. Tanggal 12 Desember 2014, akhirnya suami mendapat kabar untuk melakukan operasi tanggal 13 Desember 2014 pagi. Alhamdulilah.
Yap, hari H nya tiba. Pukul 06:00 kami sudah sampai di Rs dan siap operasi. Jam 08:00 suami dipanggil untuk ganti pakaian operasi dan saya menemaninya agar ia tidak tegang dan panik. Padahal sih, saya jauh lebih panik dan tegang kayaknya, sok kuat dan tegar ajah sih di depan suami :)) tidak lama kemudian jam 9 ia ditarik ke dalam ruang operasi. bismillah.
Sampai dengan hampir jam 11 siang, akhirnya suami keluar dari ruang operasi dengan kondisi alhamdulillah sadar tapi masih ngantuk berat dan tertidur pulas. Operasi berjalan lancar. Alhamdulilah.
sekitar jam 1 siang kami pindah ke ruang perawatan kelas 2 (turun kelas yang seharusnya kelas 1)setelah sebelumnya kami ada di ruang pemulihan pasca operasi. Karena suami operasi hari Sabtu, jadi baru diperbolehkan pulang hari senin karena prosedur Rs pasien baru diperbolehkan pulang di hari dan jam kerja.
Senin siang, sekitar pukul 11, kami turun ke ruangan dokter jamal untuk periksa hasil operasi dan melepas tampon yang ada di hidung suami. Alhamdulillah sudah diperbolehkan pulang. Dan ada beberapa obat yang harus dibeli karena tidak tercover oleh BPJS (yang ini lumayan harganya) :))
Sebelum pulang, saya urus segala administrasinya dengan agak sedikit cemas, takut-takut kami dikenakan biaya banyak tak terduga. Ternyata Alhamdulillah, dari keseluruhan biaya operasi, ruang perawatan, obat dan infus selama perawatan yang totalnya hampir lima juta rupiah tercover oleh BPJS dan kami hanya membayar Rp. 104.000.
Alhamdulillah.. Gak rugi lah setiap bulan sisihkan uang Rp. 59.500/orang. Buat jaga-jaga kalau keluarga tersayang sakit dan kita pun lagi gak punya duit, kebantu banget. Bener deh...
Gitu ajah sih, semoga postingan ini bermanfaat yaa.
Yuk, buruan daftar... Terima kasih BPJS :))
Sama sis, tahun 2014 saya dapat benefit untuk odontectomy dengan biaya Rp 0,- dari awal periksa, ronsen panoramic, ronsen SPV, operasi bius total cabut 2 geraham, ruang rawat inap, biaya dokter, biaya obat, kecuali biaya parkir motor hehehe.
BalasHapusTapi tahun 2016 ini saya sinusitis, mau coba apakah benefit nya masih sebanyak 2014 atau ada perbedaan. Wish me luck.
Maaf baru tengok blog lagi ada comment ternyata. Banyak regulasi di BPJS jadi kurang tahu juga yaa... tapi sepengalaman saya terakhir op caesar anak ke-2 alhamdulillah mulai dari masuk rs sampai control 2minggu pasca sc jahitan kering sih free 😁😁
HapusMaaf baru tengok blog lagi ada comment ternyata. Banyak regulasi di BPJS jadi kurang tahu juga yaa... tapi sepengalaman saya terakhir op caesar anak ke-2 alhamdulillah mulai dari masuk rs sampai control 2minggu pasca sc jahitan kering sih free 😁😁
Hapus